Saya bukan penggila bola, bahkan disebut penggemar bola pun rasanya belum pantas. Hahaha. Dulu sesekali pernah menendang bola, pernah mencicipi rumput lapangan bola, bahkan pernah menonton pertandingan live di lapangan bola. Namun semuanya hanya sekali-sekali saja, sehingga gelar penggemar dan penggila bola jelaslah bukan buat saya.
Baru saja hari ini sekitar sejam setengah jam yang lalu saya melihat sepintas pembukaan FIFA WORLD CUP 2010 di Johannesburg Afrika Selatan via Siaran Langsung TV. Bila kita pernah menonton pembukaan Olimpiade China, maka ini jauh dari Spectakuler, bila kita juga pernah melihat launching Visit Indonesia Year tahun lalu di channel yang sama, ini pun tidak spektakuler. Dan memang, Spektakuler bukanlah bahan yang ingin saya bicarakan sekarang.
Semua pujian yang dilontarkan untuk pembukaan adalah tentang kebersamaan dan persamaan haknya. Walaupun sampai dengan saat ini masih ada sedikit perbincangan mengenai pembedaan suku dimana-mana, bahkan termasuk di Afrika Selatan sendiri, Afrika Selatan disebut sebagai "Rainbow Nation". Mengapa?
Kata-kata ini pertama kalinya dilontarkan oleh Archbishop Desmond Tutu untuk Afrika Selatan setelah pemilu demoktratisnya yang pertama di tahun 1994. Dan oleh Presiden Nelson Mandela yang saat itu terpilih, diungkapkan sebagai sebuah kalimat yang luar biasa "Each of us is as intimately attached to the soil of this beautiful country as are the famous jacaranda trees of Pretoria and the mimosa trees of the bushveld - a rainbow nation at peace with itself and the world.".
Sebuah ungkapan yang memang ditujukan sebagai suatu identitas penyatuan yang tadinya terpisah oleh warna kulit yang begitu menyolok.
Afrika Selatan tadi sore memang tidak membuat acara pembukaan yang spektakuler, namun secara "spektakuler" Af-Sel mampu menunjukkan sebuah identitasnya yang dianggap sebagai "kelebihan" nyata dan "kesuksesannya" yaitu KESATUAN.
Demikian dengan China yang secara jelas bukan hanya menyiratkan kesuksesannya saat pembukaan olimpiade 2008 (wah nggak terasa sudah 2 tahun lewat). Dia menunjukkan "kesuksesannya" dalam ungkapannya "One World One Dream" dimana menunjukkan satu mimpi untuk satu dunia, yang saat itu merupakan pertunjukkan luar biasa oleh China yang bukan saja hanya Sports Olympic, namun "Green Olympics, High-tech Olympics and People's Olympics".
Intinya adalah, dua negara diatas mengambil kesempatannya untuk menjadi eksis didunia. Mengambil kesempatannya untuk unjuk gigi dan menunjukkan kebesaran mereka sebagai juara sejati, baik di bidang olah raga, budaya, kesiapannya dan keamanannya tentunya.
Saya berandai-andai, bilamana pembukaan even Olah Raga sekelas dunia diadakan di Indonesia, apa yang akan kita suguhkan.
Dibanding Afrika Selatan, negara kita lebih "pelangi" bahkan kita memiliki gradasi warna kulit yang lengkap :) Dibandingkan China, kita juga punya budaya yang spektakuler untuk ditonjolkan. Jadi rasanya bukan masalah bila kita menjadi tuan rumah sebuah even besar.
Da seharusnya negara kita sudah bisa mengambil kesempatan itu. Karena terakhir untuk even olah raga SEA GAMES (South East Asian Games) diadakan di Indonesia tepatnya Jakarta, di tahun 1997. dan untuk ASIAN GAMES (ASIA), Indonesia menjadi tuan rumah di tahun 1962 di Jakarta, tepatnya ASIAN GAMES ke-4.
Untuk Miss Universe, Miss World dan sejenis, Indonesia belum pernah menjadi tuan rumah, dan mungkin akan sulit terpilih menjadi tuan rumah dikarenakan peraturan evennya ada yang kurang sesuai dengan budaya Indonesia, kecuali bila diadakan sedikit penyesuaian.
Sebenarnya untuk yang sekelas dunia namun dalam lingkup yang lebih kecil barusan saja diadakan ditahun 2008 Piala Thomas & Uber di Jakarta-Indonesia. Namun gaungnya kalah dibandingkan Olimpiade China yang sudah mempersiapkan dirinya selama hampir 4 tahun.
Indonesia sebenarnya tidak harus ikut unjuk gigi menunjukkan "ke-spektakuler-an"nya, karena sejak ratusan tahun yang lalu dikenal bahwa Indonesia adalah tanah yang kaya, diperebutkan oleh berbagai bangsa. Diakui pula Indonesia eksotis dengan begitu banyaknya pulau dan keragaman budaya yang ada. Semua tahu Indonesia memiliki masyarakat yang ramah dan saling tolong menolong. Dan semua tahu Negara Indonesia memiliki kedaulatan yang hebat dengan prinsip-prinsip moral yang baik.
Indonesia memang negeri yang exotic. Mulai dari ujung titik 0 (di ujung Aceh) sampai Papua, memiliki budaya dan keindahan alam yang sangat beragam.
Namun saat ini hal-hal tersebut mulai dilupakan dunia. Apalagi selang 10 tahun terakhir begitu banyak pemberitaan yang tidak enak didengar tentang negeri kita tercinta. Mulai kerusuhan, bom, demo anarkis, rusuh sepakbola, dan masih banyak lagi.
Indonesia memang masih eksis, hanya popularitasnya menurun, prestasi dikancah Internasionalnya yang positif menurun. Terlalu banyak berita-berita negatif yang membuat posisi kita jauh dari popularitas dunia. Orang-orang meragukan keamanannya, kenyamanannya dan lain-lainnya.
China mengambil kesempatan berharga untuk menunjukkan kepada dunia tentang negerinya saat Miss World, F1 dan puncaknya saat Olimpiade. Disana ditunjukkan keramahannya, kekayaan budayanya, kekayaan alamnya, bahkan kehidupan warganya yang mapan. (Terlepas dari berita-berita lainnya yang masih tetap menjadi misteri). Saat ini, negeri bambu tersebut menjadi salah satu tujuan wisata terfavorit di dunia. Padahal sebutlah 30 tahun yang lalu, China jauh dari image saat ini.
Kemudian Afrika Selatan "mendapatkan kehormatan" untuk menjadi tuan rumah FIFA WORLD CUP. Dipersiapkannya perhelatan luar biasa untuk menunjukkan pada dunia kebersamaan dan persamaan hak-nya. Ditunjukkan suatu budaya yang unik dan saling menghargai. Dan bila mengingat masa 20 tahun yang lalu tentang negara ini, yang ada dalm bayangan kita adalah negeri yang kurang aman.
Bila hari ini, kedua negara tersebut "Berhasil" meunjukkan kepada dunia tentang perubahannya, itu luar biasa.
So, bagi saya, Perlu bagi kita untuk mengambil kesempatan untuk unjuk gigi dan menunjukkan kepada dunia jati diri kita dan kebesaran kita yang sebenarnya.
Selain yang sudah disebutkan diatas, masih banyak sebenarnya kesempatan kita untuk menunjukkan sesuatu kepada dunia dalam bidang seni dan olahraga serta lainnya.
Bukankah jauh lebih baik kita dikenal sebagai bangsa yang berbudaya dan memiliki prestasi tinggi dibidang olah raga dibandingkan gaung video porno Artis Indonesia yang mengalahkan video Justin Bieber versi You Tube, ataupun julukan "negara terkorup" yang berhasil disabet Indonesia, tertinggi diantara 16 negara di Asia Pasifik (dirilis tanggal 8 Maret 2010 oleh perusahaan konsultan “Political & Economic Risk Consultancy” (PERC) yang berbasis di Hong Kong dan Transfarency Internasional – Jerman) yang terus meningkat semenjak tahun 2000.
Dan sebenarnya, prestasi yang lebih membanggakan ada dimana-mana, hanya kalah gaungnya. Misalnya Sandhy Sandoro yang terpilih sebagai penyanyi terbaik dalam kompetisi International 8th New Wave International Contest of Young Pop Singers yang diadakan di Jurmala, Latvia tahun 2009. Terus ada Teguh Sukaryo asal Porwokerto yang mengalahkan para pianis dari 26 negara dan saat ini termasuk dalam Pianist 15 besar dunia.
Nah bila kesempatan itu muncul, apa yang akan kita lakukan? Rasanya jauh bagi kita untuk bermimpi menjadi tuan rumah piala dunia, namun yang lainnya bukan mustahil. Dan bila kesempatan itu tiba, apa yang akan kita suguhkan?
Seperti lagu theme FIFA WORLD CUP 2010, Waving Flag dibawah ini:
Ooooooh Wooooooh
Give me freedom, give me fire, give me reason, take me higher
See the champions, take the field now, you define us, make us feel proud
In the streets are, exaliftin , as we lose our inhabition,
Celebration its around us, every nation, all around us
Singin forever young, singin songs underneath that sun
Lets rejoice in the beautiful game.
And together at the end of the day.
WE ALL SAY
When I get older I will be stronger
They'll call me freedom Just like a wavin' flag
And then it goes back
And then it goes back
And then it goes back
When I get older I will be stronger
They'll call me freedom
Just like a wavin' flag
And then it goes back
And then it goes back
And then it goes
Oooooooooooooh woooooooooohh hohoho (Back to top)
Wooo hooooo hohohohoooooo
And everybody will be singinit
Wooooooooo ohohohoooooo
And we are all singinit
PS: Let's make the beatiful game to our beautiful country, take it higher ad wavin our flag upn the sky :)
Just be the best.
Jumat, 11 Juni 2010
Senin, 05 April 2010
Banyak melanggar, denda membesar
Meski Anda belum tahu, UU Lalu Lintas Angkutan Jalan no. 22/2009 tetap berlaku. Bila melanggar, tentu polisi menindak. Daripada berkilah ini itu, lebih baik baca ini dulu. :-)
Tak punya SIM? Diatur Pasal 281 jo Pasal 77 (1), denda Rp 1 juta.
Berkegiatan lain saat mengemudi, atau dipengaruhi keadaan yang mengurangi konsentrasi? Diatur Pasal 283 jo Pasal 106 (1), denda Rp 750 ribu
Tak mematuhi sinyal peringatan kereta api, menerobos palang di persimpangan rel? Aturan Pasal 296 jo pasal 114a, denda Rp 750 ribu
Melanggar rambu/marka? Diatur Pasal 287 (1) jo psl 106 (4a) dan Psl 106 (4b), denda Rp 500 ribu.
STNK tak sah? Diatur Pasal 288 (1) jo Pasal 106 (5a), denda Rp 500 ribu.
Tanda nomor tak sah? Diatur Pasal 280 jo Pasal 68 (1), denda Rp 500 ribu.
Melanggar batas kecepatan maksimum atau minimum? Diatur Pasal 287 (5) jo Pasal 106 (4g) atau Pasal 115a, denda Rp 500 ribu.
Asesori membahayakan seperti lampu silau, bumper tanduk? Diatur Pasal 279 jo Pasal 58, denda Rp 500 ribu.
Tak mengutamakan pejalan kaki atau pesepeda? Diatur Pasal 284 jo Pasal 106 (2), denda Rp 500 ribu.
Berhenti darurat, tapi tak memasang segitiga pengaman atau isyarat lain? Diatur Pasal 298 jo Pasal 121 (1), denda Rp 500 ribu.
Ada juga denda Rp 250 ribu per pelanggaran:
- Tak membawa SIM
- Tak memakai sabuk keselamatan
- Tak memakai helm
- Malam hari, lampu utama tak menyala
- Mengganggu fungsi rambu, marka, alat pengaman pengguna jalan (berlaku untuk setiap orang)
- Tak mematuhi perintah petugas untuk berhenti, jalan terus, melaju cepat, melambat, atau mengalihkan arus
- Melanggar tata cara penggandengan kendaraan
- Pindah lajur tanpa isyarat
- Membelok atau berbalik arah tanpa isyarat
- Tak memberi prioritas pada kendaraan tertentu, termasuk yang dikawal petugas Polri
sumber: TMC Polda Metro Jaya
Tak punya SIM? Diatur Pasal 281 jo Pasal 77 (1), denda Rp 1 juta.
Berkegiatan lain saat mengemudi, atau dipengaruhi keadaan yang mengurangi konsentrasi? Diatur Pasal 283 jo Pasal 106 (1), denda Rp 750 ribu
Tak mematuhi sinyal peringatan kereta api, menerobos palang di persimpangan rel? Aturan Pasal 296 jo pasal 114a, denda Rp 750 ribu
Melanggar rambu/marka? Diatur Pasal 287 (1) jo psl 106 (4a) dan Psl 106 (4b), denda Rp 500 ribu.
STNK tak sah? Diatur Pasal 288 (1) jo Pasal 106 (5a), denda Rp 500 ribu.
Tanda nomor tak sah? Diatur Pasal 280 jo Pasal 68 (1), denda Rp 500 ribu.
Melanggar batas kecepatan maksimum atau minimum? Diatur Pasal 287 (5) jo Pasal 106 (4g) atau Pasal 115a, denda Rp 500 ribu.
Asesori membahayakan seperti lampu silau, bumper tanduk? Diatur Pasal 279 jo Pasal 58, denda Rp 500 ribu.
Tak mengutamakan pejalan kaki atau pesepeda? Diatur Pasal 284 jo Pasal 106 (2), denda Rp 500 ribu.
Berhenti darurat, tapi tak memasang segitiga pengaman atau isyarat lain? Diatur Pasal 298 jo Pasal 121 (1), denda Rp 500 ribu.
Ada juga denda Rp 250 ribu per pelanggaran:
- Tak membawa SIM
- Tak memakai sabuk keselamatan
- Tak memakai helm
- Malam hari, lampu utama tak menyala
- Mengganggu fungsi rambu, marka, alat pengaman pengguna jalan (berlaku untuk setiap orang)
- Tak mematuhi perintah petugas untuk berhenti, jalan terus, melaju cepat, melambat, atau mengalihkan arus
- Melanggar tata cara penggandengan kendaraan
- Pindah lajur tanpa isyarat
- Membelok atau berbalik arah tanpa isyarat
- Tak memberi prioritas pada kendaraan tertentu, termasuk yang dikawal petugas Polri
sumber: TMC Polda Metro Jaya
Minggu, 04 April 2010
Cheng Beng, Bakti Atau Beban?
Hari ini adalah tanggal 5 April, bertepatan dengan hari minggu. Nanti subuh adalah hari panjang untuk mengnjungi dan melakukan ziarah di kuburan leluhur. Kenapa koq hanya hari ini dalam setahun? well, silahkan baca tulisan saya di
Yang pasti ada pesan moral yang sangat dalam saat kita melakukan ritual Ceng Beng. Festival Qingming pada akhirnya terkait dengan pilar-pilar budaya Tionghoa yaitu penghormatan leluhur, makanan, kekerabatan, keselarasan dan harmony, setia, berbakti, juga kebersamaan.
Dengan menghormati leluhur berarti kita harus menjaga sikap hidup kita agar tidak mencoreng nama leluhur.
Semoga pada perayaan festival Qingming ini kita menyadari bagaimana cara kita menghormati leluhur, caranya sederhana yaitu berikanlah kontribusi positif pada lingkungan kita dan selalulah menjaga perilaku kita agar tidak memalukan para leluhur.
Berbaktilah dan setia kepada negri kita tinggal karena dalam membakar kertas emas maupun perak mengandung makna tanah melahirkan logam dan tanah itu adalah tempat dimana kita berpijak.
Berikut adalah sebuah kisah untuk kita renungkan yang saya ambil dari rekanan kita di http://woxuedao.onsugar.com/Cheng-Beng-Bakti-Atau-Beban-3286018?page=0,0#comment-7031429. Semoga dapat memperkaya diri kita dengan pemahaman yang benar.
Dalam kehidupan sehari-hari Ahong hanya seorang penjual bakpau keliling yang setiap harinya berjualan dengan mengayuh sepedanya yang telah lebih dari sepuluh tahun dengan setia menemani. Setiap pagi dia dan istrinya, Mei lan menyiapkan dagangan mereka disebuah rumah yang lebih layak disebut gubuk. Dengan tekun mereka mengolah bahan-bahan pembuat bakpau sehingga menjadi adonan dan akhirnya bakpau yang siap dijual.
Dengan tiga orang anak, kehidupan mereka tidaklah terlalu menggembirakan. Penghasilan Ahong sebagai penjual bakpau keliling hanya cukup untuk makan sehari-hari keluarganya dan menyekolahkan ketiga anaknya.
Bila hari-hari yang membutuhkan uang yang lebih banyak dari hari-hari biasanya seperti hari raya imlek Ahong cukup pusing kepala. Begitu pula bila hari cheng beng tiba. Kedua orang tua mereka telah meninggal dunia.
Semasa orang tua mereka masih hidup, Ahong sangat berbakti kepada orang tuanya. Saat mereka sakit, dirawat sendiri dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
Hari cheng beng tiba, Ahong selalu teringat kepada orang tuanya. Ingin rasanya dia menyajikan persembahan yang lengkap saat sembahyang cheng beng, namun apa daya kemampuan keuangannya tidak memungkinkan. Walaupun begitu, mereka melakukannya dengan tulus dan iklas.
Mereka hanya bisa sembahyang kepada orang tua mereka dengan lilin, hio, buah seadanya tak tertinggal bakpau tausa kesukaan orang tuanya.
Berbeda sekali dengan tetangga mereka yang kaya, saat sembahyang menyajikan hampir semua makanan yang enak-enak dan mahal, disertai pula dengan membakarkan rumah-rumahan, mobil-mobilan dan segala tetek bengek yang tidak masuk akal. Katanya supaya orang tua mereka di alam sana selalu tidak kekurangan, tetap menjadi orang kaya. Dan karena mereka sibuk, mereka menyewa orang-orang yang bisa melakukan upacara buat mereka.
Sewaktu orang tua mereka masih hidup dan sedang sakit, mereka mempercayakan perawatan orangtuanya kepada dokter dan suster karena mereka adalah orang yang super sibuk yang tidak mau direpotkan dengan segala kerepotan merawat orang sakit dan tua. Waktu mereka terlalu berharga katanya, yang penting kan mereka sudah mengeluarkan uang kepada dokter dan suster untuk merawatnya.
Setelah orang tua mereka meninggal, mereka merasa beban telah hilang lepas. Mereka pun jarang melakukan derma karena mereka terlalu sibuk untuk mengumpulkan uang dan menikmati kemewahan.
Sedangkan Ahong, walaupun serba kekurangan sering melakukan derma kepada yang memerlukan. Membagikan bakpau bikinannya kepada yang sedang kelaparan, membantu tetangga-tetangga yang memerlukan bantuan, dan rajin pula sembahyang.
Merasa terbebani saat sembahyang tidaklah ada artinya, seyogyanya dibuat sesederhana mungkin agar kita bisa sembahyang dengan tulus tanpa beban sehingga lebih bermanfaat daripada pikiran terbebani dengan kerepotan dan biaya yang musti dikeluarkan.
Ahong yang dengan kesederhanaan dan ketulusan lebih berbakti dibandingkan Acong yang lebih mempercayai orang lain untuk sembahyang pada orang tuanya. Dengan banyak melakukan kungtek, Ahong meringankan dosa-dosa orang tuanya di alam sana.
Anak cucu banyak berbuat dana, meringankan leluhur dialam sana. Dosa berat menjadi ringan, dosa ringan menjadi lebih ringan dan dihapuskan sehingga lebih cepat reinkarnasi dan terlahir dengan segala kelebihan.
Sumber tulisan : http://woxuedao.onsugar.com/Cheng-Beng-Bakti-Atau-Beban-3286018?page=0,0#comment-7031429
Yang pasti ada pesan moral yang sangat dalam saat kita melakukan ritual Ceng Beng. Festival Qingming pada akhirnya terkait dengan pilar-pilar budaya Tionghoa yaitu penghormatan leluhur, makanan, kekerabatan, keselarasan dan harmony, setia, berbakti, juga kebersamaan.
Dengan menghormati leluhur berarti kita harus menjaga sikap hidup kita agar tidak mencoreng nama leluhur.
Semoga pada perayaan festival Qingming ini kita menyadari bagaimana cara kita menghormati leluhur, caranya sederhana yaitu berikanlah kontribusi positif pada lingkungan kita dan selalulah menjaga perilaku kita agar tidak memalukan para leluhur.
Berbaktilah dan setia kepada negri kita tinggal karena dalam membakar kertas emas maupun perak mengandung makna tanah melahirkan logam dan tanah itu adalah tempat dimana kita berpijak.
Berikut adalah sebuah kisah untuk kita renungkan yang saya ambil dari rekanan kita di http://woxuedao.onsugar.com/Cheng-Beng-Bakti-Atau-Beban-3286018?page=0,0#comment-7031429. Semoga dapat memperkaya diri kita dengan pemahaman yang benar.
Dalam kehidupan sehari-hari Ahong hanya seorang penjual bakpau keliling yang setiap harinya berjualan dengan mengayuh sepedanya yang telah lebih dari sepuluh tahun dengan setia menemani. Setiap pagi dia dan istrinya, Mei lan menyiapkan dagangan mereka disebuah rumah yang lebih layak disebut gubuk. Dengan tekun mereka mengolah bahan-bahan pembuat bakpau sehingga menjadi adonan dan akhirnya bakpau yang siap dijual.
Dengan tiga orang anak, kehidupan mereka tidaklah terlalu menggembirakan. Penghasilan Ahong sebagai penjual bakpau keliling hanya cukup untuk makan sehari-hari keluarganya dan menyekolahkan ketiga anaknya.
Bila hari-hari yang membutuhkan uang yang lebih banyak dari hari-hari biasanya seperti hari raya imlek Ahong cukup pusing kepala. Begitu pula bila hari cheng beng tiba. Kedua orang tua mereka telah meninggal dunia.
Semasa orang tua mereka masih hidup, Ahong sangat berbakti kepada orang tuanya. Saat mereka sakit, dirawat sendiri dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
Hari cheng beng tiba, Ahong selalu teringat kepada orang tuanya. Ingin rasanya dia menyajikan persembahan yang lengkap saat sembahyang cheng beng, namun apa daya kemampuan keuangannya tidak memungkinkan. Walaupun begitu, mereka melakukannya dengan tulus dan iklas.
Mereka hanya bisa sembahyang kepada orang tua mereka dengan lilin, hio, buah seadanya tak tertinggal bakpau tausa kesukaan orang tuanya.
Berbeda sekali dengan tetangga mereka yang kaya, saat sembahyang menyajikan hampir semua makanan yang enak-enak dan mahal, disertai pula dengan membakarkan rumah-rumahan, mobil-mobilan dan segala tetek bengek yang tidak masuk akal. Katanya supaya orang tua mereka di alam sana selalu tidak kekurangan, tetap menjadi orang kaya. Dan karena mereka sibuk, mereka menyewa orang-orang yang bisa melakukan upacara buat mereka.
Sewaktu orang tua mereka masih hidup dan sedang sakit, mereka mempercayakan perawatan orangtuanya kepada dokter dan suster karena mereka adalah orang yang super sibuk yang tidak mau direpotkan dengan segala kerepotan merawat orang sakit dan tua. Waktu mereka terlalu berharga katanya, yang penting kan mereka sudah mengeluarkan uang kepada dokter dan suster untuk merawatnya.
Setelah orang tua mereka meninggal, mereka merasa beban telah hilang lepas. Mereka pun jarang melakukan derma karena mereka terlalu sibuk untuk mengumpulkan uang dan menikmati kemewahan.
Sedangkan Ahong, walaupun serba kekurangan sering melakukan derma kepada yang memerlukan. Membagikan bakpau bikinannya kepada yang sedang kelaparan, membantu tetangga-tetangga yang memerlukan bantuan, dan rajin pula sembahyang.
Merasa terbebani saat sembahyang tidaklah ada artinya, seyogyanya dibuat sesederhana mungkin agar kita bisa sembahyang dengan tulus tanpa beban sehingga lebih bermanfaat daripada pikiran terbebani dengan kerepotan dan biaya yang musti dikeluarkan.
Ahong yang dengan kesederhanaan dan ketulusan lebih berbakti dibandingkan Acong yang lebih mempercayai orang lain untuk sembahyang pada orang tuanya. Dengan banyak melakukan kungtek, Ahong meringankan dosa-dosa orang tuanya di alam sana.
Anak cucu banyak berbuat dana, meringankan leluhur dialam sana. Dosa berat menjadi ringan, dosa ringan menjadi lebih ringan dan dihapuskan sehingga lebih cepat reinkarnasi dan terlahir dengan segala kelebihan.
Sumber tulisan : http://woxuedao.onsugar.com/Cheng-Beng-Bakti-Atau-Beban-3286018?page=0,0#comment-7031429
Jumat, 26 Februari 2010
Kenangan Cap Go Meh 2008
Dua hari lagi akan ada perayaan Cap Go Meh. Sedari kecil aku paling suka yang namanya bulan februari. Kenapa?
Sekilas pemikiran Irfan kecil nih;p Bulan Februari tuh indah karena:
1. Imlek : Artinya dapat angpao, hehehehe
2. Sembahyang Thian : Artinya liat lampion dan bisa begadang
3. Ulang tahunku : Artinya dapat kado dan makan-makan, hahahaha (katahuan hobiku makan deh)
Nah, beberapa kali ini awal maret selalu diikuti dengan perayaan Cap Go Meh. Dan khusus tahun ini Cap Go Meh dirayakan tepat di ulang tahunku.
Kali ini ultahku akan menjadi yang ter-spesial. Kenapa? Karena aku lahir di tanggal 28 bulan 2 tahun 82, dan untuk tahun ini aku berumur 28.
Spesialnya karena tahun ini hanya dua angka itu aja yang dipakai, Spesialnya karena tahun ini aku baru merasa benar-benar dewasa, dan spesialnya karena ini tahun terakhir .... .... hehehehe
Kembali ke Cap Go Meh,
Dua tahun yang lalu, tepatnya 2008 aku menjadi petugas sembahyang bersama kedua adikku. Well, sebenarnya yang lebih banyak bekerja adalah adikku yang perempuan karena dia yang stay di Gorontalo waktu itu. Tapi aku nggak akan pernah bisa lupa perayaan dua tahun lalu.
Untuk pertama kalinya aku mendapatkan kesempatan mengangkat arca suci dan meletakkannya di dalam tandu/kio untuk melakukan perjalanan ritual Cap Go Meh. Kesempatan ini sangat luar biasa, dan aku benar-benar menghargai kesempatan yang diberikan ke aku oleh mama dan kedua adikku.
Tahun lalu aku nggak bisa pulang, dan untuk itu aku harus puas merayakan Imlek sampai dengan Cap Go Meh di perjalanan tugasku. dan sayangnya tahun ini nggak ada perayaan besar Cap Go Meh. Well, aku pun harus puas dengan menonton barongsai saja tahun ini.
Tapi tahun depan,... tahun depan aku akan berada disini menikmati saat-saat yang menyenangkan di Ulang tahunku sekaligus merayakan hari suci ini......
Just hoping that will come true.....
Label:
Keluarga,
Kenangan,
Kepercayaan,
Liburan,
Tradisi
Kamis, 25 Februari 2010
Kado Buat Mama
Tiga orang anak laki-laki yang merantau sukses dalam pekerjaan dan usaha mereka. Mereka akhirnya mendiskusikan pemberian apa yang dapat mereka berikan kepada ibu mereka yang sudah lanjut usia sebagai hadiah dan ucapan syukur karena mereka bertiga telah menjadi orang yang sukses dan kaya.
Anak pertama berkata, "Aku sudah selesai membangun sebuah rumah yang sangat besar untuk Mama kita!"
Dan anak yang kedua berkata, "Oh, aku sudah mengirimkan Mama sebuah mobil Marcedes, lengkap dengan sopirnya!"
Lalu anak ke tiga berkata, "Aku punya hadiah yang lebih istimewa dari kalian berdua! Kalian tahu kan dan kalau Mama kita sangat suka sekali membaca kitab suci dan kalian juga tahu kan kalau penglihatan Mama kita kurang begitu bagus lagi sehingga dia kesulitan dalam membaca kitab suci. Nah ... aku mengirimkannya seekor Burung Beo luar biasa yang hafal seluruh isi kitab suci. Mama tinggal menyebutkan kitab apa, pasal, maupun ayat berapa yang ingin didengarnya dan dengan cepat Burung Beo ini akan meyebutkan isinya!!"
Beberapa waktu kemudian, ibu mereka mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada anak-anaknya:
"Milton," dia menulis kepada anak pertamanya, "Rumah yang kau bangunkan untukku terlalu besar. Aku hanya menggunakan satu kamar, tapi aku harus membersihkan seluruh rumah!"
"Gerald," dia menulis kepada anak keduanya, "Aku sudah terlalu tua untuk mengadakan perjalanan. Sepanjang hari aku menghabiskan waktu di rumah saja, jadi aku sangat jarang menggunakan Mercedes itu. Lagipula sopirnya agak kurang sopan!"
"Donald tersayang," dia menulis kepada anaknya yang ketiga, "Kamu betul-betul tahu apa yang menjadi kesukaan Ibumu ini .... Ayam yang kamu kirimkan padaku itu sangat lezat rasanya!"
Anak pertama berkata, "Aku sudah selesai membangun sebuah rumah yang sangat besar untuk Mama kita!"
Dan anak yang kedua berkata, "Oh, aku sudah mengirimkan Mama sebuah mobil Marcedes, lengkap dengan sopirnya!"
Lalu anak ke tiga berkata, "Aku punya hadiah yang lebih istimewa dari kalian berdua! Kalian tahu kan dan kalau Mama kita sangat suka sekali membaca kitab suci dan kalian juga tahu kan kalau penglihatan Mama kita kurang begitu bagus lagi sehingga dia kesulitan dalam membaca kitab suci. Nah ... aku mengirimkannya seekor Burung Beo luar biasa yang hafal seluruh isi kitab suci. Mama tinggal menyebutkan kitab apa, pasal, maupun ayat berapa yang ingin didengarnya dan dengan cepat Burung Beo ini akan meyebutkan isinya!!"
Beberapa waktu kemudian, ibu mereka mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada anak-anaknya:
"Milton," dia menulis kepada anak pertamanya, "Rumah yang kau bangunkan untukku terlalu besar. Aku hanya menggunakan satu kamar, tapi aku harus membersihkan seluruh rumah!"
"Gerald," dia menulis kepada anak keduanya, "Aku sudah terlalu tua untuk mengadakan perjalanan. Sepanjang hari aku menghabiskan waktu di rumah saja, jadi aku sangat jarang menggunakan Mercedes itu. Lagipula sopirnya agak kurang sopan!"
"Donald tersayang," dia menulis kepada anaknya yang ketiga, "Kamu betul-betul tahu apa yang menjadi kesukaan Ibumu ini .... Ayam yang kamu kirimkan padaku itu sangat lezat rasanya!"
Rabu, 24 Februari 2010
Gorontalo dan Keindahan Kota di Siang Hari
Well, tulisan ini sebenarnya sedikit terjadi karena kejengkelan saya selama berada di Gorontalo dengan keadaan lampu yang cukup sering mati baik rutin maupun tidak.
Contohnya saja hari ini. Semalam adalah jadwal rutin pemadaman wilayah tempat tinggal saya. Tiba-tiba mulai siang tadi pukul kira-kira 14.00 sampai dengan saat ini belum nyala juga. Wah-wah, walaupun saya rasa semua pihak udah pada maklum karena ini bukan sesuatu yang diluar kebiasaan, namun yang namanya perasaan dongkol nggak bisa begitu saja di tolerir.
Udah, memang maksud saya menuliskan keindahan kota ini adalah terilhami dengan sedikit hal menggelitik diatas. Namun yang paling ingin saya tuliskan kali ini adalah keindahan keragaman yang ada di Kota kelahiran saya tercinta Gorontalo.
Kenapa siang-siang? yah karena diwaktu siang, semua aktivitas sejenak rehat - bukan berhenti, hanya sekedar istirahat sejenak - untuk menyambut malam harinya.
Sejak ratusan tahun yang lalu Gorontalo telah menjadi salah satu pusat peradaban besar diwilayah selebes/sulawesi. Terbentang diantara laut yang begitu luas, dan begitu banyak gunung yang tinggi menjulang seakan-akan ingin menunjukkan kebesaran dan kekokohannya.
Gorontalo memang indah, begitu banyak pengusaha kecil dari sulawesi tengah seperti buol, tongkabu dan dolong yang datang untuk berbisnis dan membawa banyak barang-barang dari Gorontalo untuk dijual kembali. Dan sampai dengan saat ini pun cukup banyak pengusaha sulteng yang masih berkiblat ke Gorontalo. Padahal sebenarnya wilayah mereka sudah termasuk area kekuasaan Palu sebagai ibukota Sulawesi Tengah.
Secara lalu lintas antara Gorontalo dengan kota-kota besar lainnya di Sulawesi cukup lancar. Khususnya untuk transportasi darat dan laut, sedangkan untuk udara hanya masuk area toli-toli saja yang cukup lancar.
Saat ini Gorontalo sedang digadang-gadang sebagai salah satu daerah yang terindah untuk kehidupan lautnya. Cukup banyak penikmat keindahan bawah laut saat ini di wilayah Gorontalo baik penduduk asli maupun para wisatawan. Bahkan lumayan banyak wisatawan yang berasal dari asia timur per tahunnya, sebut saja korea dan jepang.
Memang sebagai "kota baru" yang sebagai propinsi-pun baru sekitar beberapa tahun, Gorontalo masih harus banyak dipoles dan diperlengkapi. Namun saya akan sangat percaya bila suatu saat nanti Gorontalo akan diangkat menjadi kota teladan di Indonesia. Beragam tradisi yang ada dengan suku yang lengkap karena merupakan salah satu area transmigran serta keramahan dan keindahannya adalah modal-modalnya yang utama.
Sisanya seperti infrastruktur kota metropolis?
Saya rasa seiring dengan waktu yang berjalan semua itu akan terpenuhi. Toh nggak pernah ada kota yang langsung menjadi metrpolis. Kita berikan kesempatan membangun bagi bungsu propinsi, tapi yang paling utama......
lease pencahayaannya diperbaiki deh, jangan ada lagi giliran mati lampu yang bikin gemes :p
Sukses selalu,
Hidup kampung halamanku. Dimanapun aku berada, Gorontalo ngak pernah hilang dari bayanganku :)
Irfan Utamin
Senin, 22 Februari 2010
Perayaan King Thi Kong di Gorontalo
Didalam blog saya di http://asalusulbudayationghoa.blogspot.com/2010/02/king-thi-kong.html saya sempat menceritakan tentang sembahyangan King Thi Kong dan asal-usulnya berdasarkan apa yang pernah saya baca dan dengar. Kali ini setelah sekian lama nya saya tidak sempat mengikuti upacara ini, akhirnya saya bisa mengikutinya di kota kelahiran saya dengan berkah yang luar biasa.
Upacara di Gorontalo mungkin saja tidak sama dengan yang diadakan dikota-kota lainnya. Disini sejak pertama kali saya mengikutinya, diadakan dengan meriah dan diikuti dengan berbagai detail persiapan yang menarik.
Sebut saja kebiasaan kami di Gorontalo untuk membuat kertas sembahyangan membentuk lampion-lampion beraneka ragam, yang di pucuk bawahnya digantungkan kertas angpao. Beberapa kali saat saya di Surabaya, disaat tanggal yang sama dan persembahyangan yang sama saya tidak pernah melihat lampion-lampion kertas ini. Sehingga saya menyimpulkan mungkin ini adalah kebiasaan kami di Gorontalo yang sangat menarik.
Lampion ini digantungkan di sekeliling area klenteng. Dan kemudian disaat persembahyangan selesai, dibakar bersama-sama sebagai tanda selesainya upacara. Kemudian diikuti dengan setiap umat mengambil air bunga untuk dibasuhkan ke tangan dan wajah.
Sebenarnya ada lagi yang unik. Di Gorontalo ada petugas yang mengurusi sembahyangan di Klenteng selama satu tahun yang disebut dengan Tauke dan berjumlah empat orang. Nah, upacara sembahyangan ini dimulai dengan prosesi penjemputan Tauke oleh umat Tri Dharma Gorontalo. Biasanya, penjemputan ini diiringi dengan musik tanjidor, namun khusus malam tadi, penjemputan dilakukan dengan diiringi oleh barongsai merah.
Pesan saya, bila rekan-rekan sempat untuk mampir di Gorontalo, mampirlah di Klenteng T.I.TD Thien Hou Kiong yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. Bila memungkinkan, datanglah saat beberapa hari setelah Tahun Baru Imlek. Bila berjodoh, rekan-rekan bisa melihat dua upacara sembahyangan masyarakat Tionghoa Gorontalo sekaligus. Yakni sembayangan King Thi Kong dan Upacara besar Gian Siauw.
Sayang sekali kali ini saya tidak berjodoh untuk melihat upacara perayaan Goan Siauw di Gorontalo. Mudah-mudahan lain kali saya dan anda bisa melihat perayaan unik ini dan bahkan bisa berpastisipasi didalamnya.
Sampai bertemu padacerita saya yang berikutnya. Sukses selalu,
Semoga jalan yang saya dan anda lalui diberkahi dengan kemakmuran dan limpahan rahmat kebahagiaan.
Irfan Utamin
Label:
Amazing Indonesia,
Keluarga,
Kenangan,
Kepercayaan,
Liburan,
Tradisi
Langganan:
Postingan (Atom)